Andalan

Pos blog pertama

Ini adalah pos pertama Anda. Klik tautan Sunting untuk mengubah atau menghapusnya, atau mulai pos baru. Jika ingin, Anda dapat menggunakan pos ini untuk menjelaskan kepada pembaca mengenai alasan Anda memulai blog ini dan rencana Anda dengan blog ini.

pos

Iklan

Noda Hitam di Hari Lebaran

Hari Raya Iedulfitri yang lebih ramah disebut dengan ‘Hari Lebaran’ tahun ini memang sungguh menghangatkan. Tali persaudaraan sesama muslim kembali dikencangkan. Harusnya saat-saat seperti ini sangat cocok untuk menyapu bersih sikap apatis antar makhluk sosial baik di dunia nyata maupun maya. Cukuplah harga-harga kebutuhan masyarakat yang meningkat secara gradual di tahun ini menjadi bahan introspeksi diri. Semoga tahun depan bisa ada perbaikan kesejahteraan rakyat. Boleh ditambah kebijakan bijaknya, boleh juga diganti ‘sopirnya’.

Ibarat pakaian putih, jika selama pemakaian terdapat banyak noda maka hari lebaran menjadi waktu paling tepat untuk kembali mensucikan. Itulah hati manusia. Apalagi tiap orang tak pernah tahu sekotor apa pakaiannya. Orang waras juga tahu, betapa berat malu ditanggung jika bertamu dan berjumpa sesama dengan pakaian kumuh. Maka, semua berlomba saling memohon maaf lagi memaafkan.

Tapi ironis, ada saja noda yang membandel. Tanpa diduga, ternyata suasana lebaran kali ini semakin keruh dengan datangnya musim politik. Belum lama ini juga sempat viral tentang peristiwa yang menimpa Bapak Gubernur DKI Jakarta dan wakilnya yang memenuhi undangan Bapak Presiden Joko Widodo. Tepat ketika kedatangan Pak Anies, tiba-tiba riuh seruan oraang-orang yang tak jelas menyoraki beliau. Sontak muncul banyak sekali tanggapan yang beragam dari publik terkait peristiwa ini. Sangat disayangkan sekali, di hari raya yang harusnya damai ini bisa terjadi hal seperti ini. Terlepas dari hal apakah ini berbau politik atau bukan, secara adab hal ini memang terbilang kurang pantas.

Adapun hal yang lebih menyayat hati, yaitu masih tentang hubungan antara Kyai Yahya Cholil Staquf dengan pihak Israel. Sempat tersebar juga beberapa foto mesra antara beliau dengan perdana menteri Israel. Jujur, menurut saya pribadi hal semacam ini lebih menyakitkan dari apapun. Saya benar-benar belum paham dengan senyuman beliau kepada mereka dengan dalih “Rahmah”. Penjajah adalah musuh. Apakah sudah secepat itu beliau lupa dengan kematian anak-anak Palestina?

Rasanya, saya ingin menanyakan lebih jelas kepada beliau. Namun, apalah daya. Hati semakin teriris ketika melihat cuplikan video agak lawas tentang Arab yang disebut “penjajah”. Untuk apa bertanya, jika memang nista ini sudah kian jelas.

Wallahu a’lam bish shawab. Semoga Allah selalu memberikan kita hidayah yang menuntut kita untuk terus istiqomah di jalan-Nya, bukan jalan para pengkhianat.

 

Razu

Jakarta, 17 Juni 2018

Lebaran Ceria, Ambil Pesannya!

Hari ini ummat muslim Indonesia khususnya tengah merasakan kebahagiaan. Mulai dari yang kecil sampai yang besar. Yang muda maupun yang tua. Semua memiliki rasa tersendiri dalam hati yang diluapkan dalam tawa dan haru.

Lihatlah orangtua, kebahagiaan mereka adalah saat anak-cucunya berdatangan. Berlarian kesana-kemari. Bercanda tawa, berbagi cerita,. Poinnya bukan sekadar saat kumpul-kumpil saja, tapi bahagia saat mereka sadar bahwa anak keturunannya tengah bergembira semua. Kumpul saudara adalah persatuan. Karena tak ada yang lebih membuat bahagia daripada persatuan. Inilah contoh kasih sayang seorang ayah dan ibunda. Walau usia kian senja, mereka tetap merasa muda saat semua bahagia.

Tak kalah dengan kalangan sepuh dan orangtua, yang muda juga ikut ambil bagian. Apalagi bocah-bocah yang membawa dompet masing-masing. Hal yang tak wajar mereka bawa selain hari Ramadhan. Karena tradisi masyarakat kita, hari lebaran adalah hari panen uang receh lembaran yang masih kaku. Ada yang mengerti nilainya, ada pula yang sekadar ikut-ikutan mendapat uang tanpa tahu seberapa nilainya. Yang seperti ini, biasanya saya yang pegang uangnya. Mereka gak akan sadar, hehe ….

Setiap kejadiannya, kita ambil pelajaran. Untuk anak-anak, jangan sampai diajarkan sejak dini sikap meminta-minta. jangan dibiasakan anak tergiur dengan harta benda. Tapi ajarkan mereka bagaimana rasa malu adalah bagian dari iman. Ajarkan mereka bagaimana caraya bisa membantu sesama. Dan yang tak boleh lupa, ajarkan pada mereka bagaimana syukur itu diekspresikan menurut cara anak-anak. Agar iman bisa ditanam. Agar benih terus tersiram air kesejukan dalam keshalihan.

Semua adalah tantangan setiap mereka yang merasa sebagai orang dewasa terutama orangtua. Jadikan “THR” kepada anak-anak sebagai sedekah, bukan paksaan tradisi semata. Betapa jauh sekali bedanya, hanya karena urusan niat. Sekali dayung, dua-tiga pulau terlampaui. Sambil memberi, jangan lupa sambil berbisik menasehati. Karena percikan iman lebih mudah kita curahkan saat mereka tengah berbahagia.

Begitulah serba-serbi hari lebaran. Tiap kejadian, harus diambil pelajaran. Tiap kesempatan, harus diambil hikmahnya. Mumpung masih hangat lebaran, saya juga memohon maaf atas segala salah dan kekurangan. Semoga Allah menerima amal ibadah kita dan dijumpakan dengan Ramadhan unuk tahun-tahun berikutnya. Wassalam.

Wallahu a’lam bish shawab ….

Razu, Jakarta, 15 Juni 2018

 

Menyambut Kemenangan

Kemenangan kian dekat. Setelah selama hampir 30 hari membersamai tamu agung Ramadhan, ummat muslim mendapatkan janji suci berupa ampunan dan rahmat. Karena keduanya adalah menjadi salah satu tujuan daripada proses tarbiyyah di bulan Ramadhan. Allah mengajak ummatnya yang beriman untuk menjalankan suatu kewajiban yang akan berbuah kepada ketaqwaan. dan tentu, inilah kemenangan hakiki bagi para muttaqin yang lulus.

Keputusan Itsbat telah diumumkan ke seluruh penjuru rakyat muslimin di nusantara. beragam suku dan daerah sedikit disibukkan dengan tradisi khas lebaran, yaitu ketupat. Ia adalah makanan berbahan nasi yang dikukus dalam sebuah anyaman dari daun pohon kelapa membentuk bangun belah ketupat. Tentu saja, kalau ada ketupat pasti ada pasangannya. Karena fungsinya sebagai pengganti nasi, maka untuk menu yang wajar ketika hari raya ini adalah seperti opor ayam, sayur godog santan, rendang daging sapi, sambal goreng kentang, atau bisa jadi semur jengkol. Ditambah lagi kerupuk udang maka menu santapan di hari raya semakin berselera.

Hal yang demikian adalah urusan nomer kesekian. Dia bisa dikategorikan ke dalam bab silaturrahim. Karena biasanya dengan suasana seperti itu maka sudah wajar bila rumah-rumah tetangga akan sering dikunjungi tetamu yang datang. Inilah momen penting untuk semakin mengakrabkan hubungan sosial antar keluarga dan rukun bertetangga. Sambil saling bermaaf-maafan, suasana kumpul saudara semacam ini juga menjadi hangat karena tandanya ikatan iman telah menyatukan ummat muslim di manapun berada.

Selain ketupat, yang tak kalah penting juga adalah mudik lebaran. Biasanya, pada momen Iedul Fitri setiap keluarga mengambil kesempatan liburnya untuk bisa saling mengunjungi sanak keluarga. Bagi kaum urban yang menetap di daerah perkotaan seperti Jakarta, maka mereka sudah akan siap berkemas menuju kampung halamannya masing-masing. Selain untuk berkumpul dengan saudara di desa, ini juga menjadi ajang bakti anak kepada orangtuanya yang tinggal di desa. Maka dari itu, kesempatan berharga ini tak pernah boleh ditinggalkan. Dimana-mana orang berbondong-bondong pergi ke desa. Walau tak jarang mereka harus meniti jalan penh juang dengan adanya antre tiket transportasi perjalanan ataupun perjuangan dalam kemacetan. Semuanya menjadi siklus tradisi yang terus terulang setiap tahunnya.

Kembali kepada makna kemenangan, bahwa perkara yang disebutkan bukanlah makna daripada kemenangan itu sendiri. Kebahagiaan dalam kebersamaan itu memang indah, tapi sejatinya kemenagan yang lebih baik dari itu semua adalah janji suci berupa surga. Kalau kita kaji ayat-ayat Alquran, maka seringkali kita temui kata “Fauz” itu selalu berdampingan dengan surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai. Atau makna “Fauz” lainnya juga bisa berarti keridhaan atau turunnya rahmat Allah subhanahu wa ta’ala. Adapun ayat yang menyebutkan bahwa ketika seseorang dihindarkan dari neraka, maka ia juga disebut sebagai “Fauz” atau kemenangan. Inilah yang perlu kita garisbawahi dan catat dalam hati. Bahwa tujuan taqwa tertinggi adalah meraih rahmat dan ridha Allah, dijauhkan dari api neraka, dan kemudian bisa singgah selamanya di surga.

Di hari fitri, mari sama-sama kita renungkan bersama makna Iedul Fitri ini. Jika dia adalah hari kemenangan bagi umat muslim, harusnya mulai dari sinilai tumbuh benih semangat menuju pengharapan mendapat surga Allah. Ibarat sebuah akademi, maka orang yang memasuki Ramadhan harusnya mampu menjadikan pribadi dirinya lebih angguh dan kokoh imannya. Jika saat Ramadhan dia membaca sehari dua juz, maka di bulan-bulan selanjutnya sampai seterusnya dia mesti berusaha semaksimal mungkin agar bisa menghadirkan ruh Ramadhan. Konsisten dalam amal shalih adalah berat, tapi dia bisa untuk dilakukan. Jadi, selama ia masih bisa dilakukan maka lakukanlah. Karena yang berat sesungguhnya bukan beramal shalih, tapi beramal buruk. Karena kala sudah dosa, maka imbalannya adalah neraka. Kamu gak akan kuat. Dan jangan bilang saya akan kuat. Ketahuilah, ternyata kita sama-sama gak akan kuat!

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, Laa ilaaha illallah, Allahu akbar. Allahu akbar, wa lillahil hamd. Semoga Allah menerima segala amal shalih kita di bulan Ramadhan tahun ini, dan menjumpakan kita dengan Ramadhan berikutnya. Ied Mubarak.

Maaf berantakan, yang penting nulis.

Jakarta, 15 Juni 2018.

Urgesi Mempelajari Sejarah

Urgensi Mempelajari Sejarah

Orang bilang, sejarah adalah ilmu pengetahuan paling tertua. Sejak 2000 tahun SM, Mesir kuno telah banyak menorehkan peristiwa-peristiwa apik yang mebuat banyak orang kemudian tak pernah berhenti untuk menggoreskan tinta sejarah sebagai konsumsi wawasan publik.

Tapi sebenarnya apa yang paling dicari dalam sebuah sejarah itu sendiri? Sehingga banyak sekali kita temukan orang-orang berbondong berkelana kesana-kemari melakukan riset ilmiah dan observasi lainnya. Tentu semua itu hanya demi mendapatkan sebuah penemuan yang disebut sebagai historiografi kehidupan. Mereka benar-benar mencoba untuk menjaga sejarah kehidupan ini agar menjadi suatu bahan informasi dan wawasan yang patut diambil pelajaran.

Namun keadaanya semakin berbeda untuk sebagian manusia modern pada saat ini. Sekarang sudah banyak yang masih saja menjadikan sejarah sekadar sebagai mainan dan kisah nenek moyang yang terus-menerus diceritakan ke anak-cucunya. Atau bahkan tak sedikit pula di antara para sejarawan yang mengandalkan visi materialistik sebagai modal dan model untuk menuliskan sejarah. Kalau sudah seperti itu, maka distorsi sejarah akan semakin marak terjadi. Akibatnya ia akan mengikis dan menghancurkan martabat sejarah yang hakikat. Perbandingannya tentu akan sangat jauh berbeda jika sejarah dijadikan sebagai bahan perenungan diri setiap insan untuk pembelajaran dalam mengatur strategi jitu menuju kejayaan. Kumpulan sejarah itu akan menjadi salah satu material penting untuk membangun sebuah arsitektur kehidupan yang berkeadaban. Lembaran-lembaran sejarah tak hanya jadi bacaan. Arsitektur dan segala macam fosilnya tak hanya disimpan dalam museum. Tapi ia justru akan semakin menghidupkan akal pikiran manusia.

Alquran sebagai sumber dan pedoman paling utama dalam tuntunan kehidupan telah mengisyaratkan tentang ruang dimensi waktu yang harus dicermati oleh manusia. Masa lampau, masa sekarang, dan masa depan. Ketiganya akan senantiasa dan terus berputar mengikuti perputaran nafasnya bumi; menjauh dan mendekat.

Pada masa lampau dimana terdapat banyak torehan tinta sejarah telah tumpah, begitulah di penutup Surat Yusuf ayat 11 Allah sampaikan kepada kita lewat firman-Nya yang artinya, “Dan sungguh dalam kisah-kisah mereka itu terdapat ibrah bagi orang-orang yang berakal.” Dan lihatlah pula surat Al Hasyr ayat 18 Allah berfirman yang diterjemahkan seperti ini, “Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kalian kepada Allah. Dan hendaklah seseorang melihat apa yang telah berlalu untuk (merencanakan) hari esok.”  Kedua ayat ini harusnya sudah cukup untuk mematahkan sebuah alasan mengapa seseorang tak begitu menganggap penting sebuah sejarah. Karena tanpa sejarah, mungkin orang itu tak akan pernah bisa hidup bebas. Mereka akan mati seperti sekoci di tengah lautan yang tak akan pernah bisa bergerak dan tak mau tahu kemana mestinya dia mengarah. Dia hanya mengikuti angin. Maka jelaslah kalau sejarah itu tak penting, lalu untuk apa dua-pertiga Alquran berisi kisah-kisah ummat terdahulu?

Sekali lagi, sejarah itu adalah sunatullah. Ia akan terus berputar walaupun zaman terus berkembang. Maka, ajarkanlah ummat dan anak-anak bangsa kita sejarah bagaimana negeri ini terlahir. Ceritakanlah bagaimana akibat dari kaum-kaum yang membangkan dari seruan para Nabi. Dan tanamkanlah benih-benih kepahlawanan dalam jiwa anak-cucu kita agar mereka tahu untuk apa mereka berjuang, dan untuk siapa mereka hidup!

Mohon koreksinya.

Wallahu a’lam bishshawab.

 

Melawan Penyakit Akhir Zaman

Kita telah sampai di ujung zaman. Fenomena-fenomena sebagaimana yang telah disebutkan oleh Rasulullah semakin hari semakin jelas kebenarannya. Harta, tahta, jabatan, sudah merasuk ke relung hati sebagian manusia. Untuk berlomba mendapatkannya, dengan mudah mereka susun rencana dengan berbagai cara walaupun tak sesuai dengan tuntunan. Hal ini berimbas pada timbulnya berbagai fitnah di mana-mana. Dan kemudian mengekor di belakangnya kerusakan yang sulit untuk dihindari. Padahal, alam sadar kita pun turut mengakui bahwa cinta dunia dan takut mati adalah sebuah bencana bagi ummat. Lalu kenapa masih saja keduanya masih melekat?

Sebenarnya, kedua penyakit ini bisa saja dicegah. Andai kita membaca kembali kisah seorang hamba pilihan Allah yang menjadi utusan mulia. Nabi Sulaiman a.s. maka kita akan temukan suplemen terbaik untuk ruhani sebagaimana yang dikisahkan dalam Al Quran.

Suatu ketika Nabi pernah ditanya; manakah dari dua pilihan yang ditawarkan Rabbnya. Harta kekayaan ataukah ilmu? Maka dengan cerdas Nabi Sulaiman pun menjawab dan cenderung memilih ilmu. Maka dapatlah ia apa yang diinginkan. Bahkan, ilmu langka pun didapat. Nabi Sulaiman a.s mampu menguasai bahasa binatang.

Lebih dari itu, dirinya pun kemudian diberkahi dengan mendapatkan kekayaan yang melimpah. Dengan hati tunduk dan penuh ketawadhuan dipanjatkannya kalimat syukur yang merdu, “Alhamdulillahilladzi fadhdhalana ala katsirin min ‘ibaadihil mukminiin.” Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kami keutamaan di atas para hambaNya yang beriman.

Maka dengan kewibawaan Nabi Sulaiman itu, semua makhluk pun turut tunduk dan patuh. Jin, manusia, binatang dan burung-burung semuanya setia menjadi pengikut.

Hikmah pertama adalah, bahwa ilmu sejatinya lebih berharga daripada harta dan segala kekayaan dunia. Maka benarlah perkataan yang masyhur dari Ali bin Abi Thalib (walaupun kita perlu juga melihat kebenaran apakah ini perkataan beliau atau bukan. Wallahu a’lam) bahwa keutamaan ilmu dibanding harta itu ada 3; (1) Harta akan berkurang jika diberikan sedangkan ilmu justru akan bertambah, (2) Harta perlu penjagaan, sedangkan ilmu justru yang akan menjadi penjaga bagi kita, (3) Harta bisa dicuri, sedangkan ilmu tidak.

Dengan mengetahui hal ini, insya Allah kita pun bisa berusaha untuk mencegah dari kecintaan terhadap dunia yang fana. Dan kemudian bisa mengalihkan cinta itu kepada ilmu.

Kemudian, bagaimana dengan perasaan takut mati?

Sebenarnya takut mati itu diperbolehkan dengan syarat jika memang seseorang merasa takut karena belum siap menghadapi kematian sebab bekal yang kurang untuk berjumpa Allah. Namun takut mati yang dimaksud di hadist ini adalah takut mati karena kehilangan apa-apa yang dia miliki di dunia.

Tapi ada poin penting terkait maksud dari takut mati ini. Adapun kita ambil kisah lain di suatu hari ketika Nabi Sulaiman mengadakan suatu safari. Semua makhluk turut ikut bersama Nabi. Tak ada satupun di antara mereka yang membangkang. Mereka berdiri rapi dalam barisan. Tentunya dalam ketundukan.

Tibalah saat mereka mendekati tempat tinggal sekawanan semut. Didengarnya perkataan sederhana seekor semut yang amat bijak terhadap kawanan pasukan semut lainnya. Sebuah perintah yang penuh hikmat dan ibroh.

“Wahai para semut, masuklah segera ke rumah-rumah tempat tinggal kalian! Sulaiman dan pasukannya akan melewati tempat tinggal kita ini. Aku khawatir mereka akan menginjak kita, dan mereka tidak mengetahui.”

Tersenyumlah Nabi Sulaiman mendengar ucapannya tersebut. Lalu beliau pun memanjatkan doa yang indah atasnya.

“Rabbi auzi’ni An asykura nikmatakallati an’amta alayya wa ala waalidayya wa An a’mala shaalihan tardhaahu .wa adkhilni birahmatika fii ibaadika ash shaalihin…” Ya Rabbku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmatMu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada orangtuaku, dan agar aku menjalankan kebajikan yang Engkau ridhai, dan Masukkanlah aku ke dalam golongan hambaMu yang shalih.

Ada beberapa pelajaran penting dari penggalan riwayat kisah agung yang diceritakan dalam Al Quran ini. Pertama, kita diajak belajar dari semut Nabi Sulaiman. Dia adalah hewan kecil dan lemah, tapi mampu melampaui yang lainnya lewat ucapan cerdasnya tersebut.

Selain itu, hal ini menunjukkan pula pada kita pelajaran penting sebagai pemimpin. Yang paling dipedulikan adalah rakyatnya. Semua kebaikan ditujukan untuk bersama bukan untuk diri pribadi. Perintah pemimpin semut “masuklah kalian ke dalam rumah-rumah kalian!” adalah bentuk kepahlawanan atas kepeduliannya terhada rekan rekannya.

Ketiga, ucapannya, “aku khawatir Sulaiman dan pasukannya akan menginjak kita dan mereka tidak mengetahui.” Dan itu artinya, dia sama sekali tak sedikitpun menyalahkan, mencela, dan berburuk sangka terhadap Nabi Sulaiman dan pasukannya. Dia tak mengatakan, “ayo masuklah! Nanti Nabi Sulaiman akan menginjak kita!” Tapi mereka justru menambahkan kalimat, “dan mereka (Sulaiman dan pasukannya) tidak mengetahui.” Ini adalah ucapan indah dan bijak seekor semut.

Keempat, atas apa yang dilakukan semut itu, Nabi Sulaiman pun tersenyum gembira mendengar ucapannya. Kemudian, Nabi langsung ingat kepada Rabbnya. Dan melantunkan doa yang indah. Memohon pada Allah agar dilimpahkan rasa syukur selalu padaNya atas nikmat. Agar dibimbing untuk senantiasa beramal shalih yang diridhai Allah. Dan agar bisa dimasukkan ke dalam golongan orang2 shalih.

Ternyata, untuk mengingat Allah kita bisa merenung dari seekor hewan kecil seperti semut. Betapa bahagia menjadi seseorang yang mampu mengingatkan orang lain kepada Rabbnya. Maka, bolehlah kita belajar seperti semut Sulaiman. Ia adalah hewan mulia. Namanya, tertulis dalam Al Quran. Perbuatannya, menjadi inspirasi dan pelajaran yang tergambar dalam Al Quran.

Namun, maukah kita jadi golongan yang disebutkan Allah setelah turunnya ayat dan bukti kuasa Allah, “Walakinna aktsarannaasi laa yaskuruun.” “Walaakinna aktsarahum laa ya’lamuun.” Tapi banyak di antara mereka yang tidak bersyukur. Dan banyak di antara mereka yang tidak mengetahui (tanda-tanda kuasa Allah).

Kota simpulkan, jika takut mati dijadikan motivasi untuk terus berbuat kebaikan maka ia akan menjadi salah satu pemicu semangat hidup. Salah satu yang menonjol dari kebaikan itu adalah mewakafkan diri untuk bisa berkhidmat untuk orang banyak. Bagaimana caranya kita bisa memberikan manfaat bagi orang lain walau dengan amalan sekecil apapun.

Kemudian, syukur pada Allah adalah kunci kebahagiaan. Kita juga tak perlu risau dengan liku kehidupan karena ia juga pasti akan memiliki ujung. Bayangkan jika kita mempersiapkan kematian dengan terus menjadi ‘Abdan Syakuro’. Maka, insya Allah kita akan mengubah makna kematian tersebut menjadi suatu kenikmatan bukan bencana. Betapa pertemuan Allah sangat kita rindukan. Allah Dzat yang memiliki segala kesempurnaan dan keindahan. Semoga Allah berkenan menjadikan kita semua hamba-hambaNya yang menghadapNya dengan wajah berseri.

“Wujuhuyyaumaidzin naa’imah. Lisa’yiha raadhiyah.” (Al Ghasyiah : 8-9)

“Wujuuhuyyaumaidzin naadhirah. Ulama rabbiha naazhirah.” (Al Qiyamah : 22-23)

“Wujuuhuyyaumaidzin musfirah. Dhaahikatun mustabsyirah.” (Abasa 38-39)

Wallahu a’lam bish shawab.

Razu, Klaten, 23022018

APAKAH ULAMA MEMBAWA PETAKA?

Persis seperti sebuah materi khutbah yang saya sampaikan pada pekan lalu, yaitu tentang kewajiban seorang muslim untuk membela ulama. Rasanya baru saja hari itu kami serukan, kemudian datang beberapa kejadian aneh yang benar-benar mengiris hati segolongan umat muslim.

Pertama, tragedi penyerangan sadis yang menimpa Kyai Sentiong di Cicalengka beberapa waktu lalu. Kemudian baru-baru ini disusul dengan kejadian yang serupa terhadap Komandan Brigade Persatuan Islam, Ustadz Prawoto, SE hingga nyawanya kembali ke sisi Rabbnya, semoga Allah merahmati beliau.

Kedua tokoh yang kita sebutkan tadi merupakan guru kita. Banyak waktu dan lelah yang mereka korbankan dalam perjuangan membela agama ini. Namun, yang jadi pertanyaan, mengapa harus mereka yang tertimpa serangan gila semacam ini? Mereka adalah ulama kita. Apakah pelaku tak memuliakan orang-orang pilihan yang dimuliakan Allah itu?

Mari kita kembali membuka lebaran sejarah penuh hikmah dari para ulama salafus shalih. Tentang bagaimana perlakuan baik masyarakat saat itu -muslim atau nonmuslim- terhadap seorang ulama.

Dikisahkan, seorang pemuda Yahudi berani menjual satu unit rumah dengan harga dua kali lipat dari harga pada umumnya. Dia berani membandrol rumahnya seharga 2000 dirham. Sedangkan 1000 dirham saat itu adalah harga yang paling wajar untuk satu unit rumah.

Orang-orang banyak yang heran dengan si pemuda ini. Hingga ditanya kepadanya, “Apa alasanmu berani menjual rumahmu dengan harga yang sangat tinggi itu?”

Dengan ‘enteng’ si pemuda menjawab, “Aku menjual rumahku seharga 1000 dirham. Tapi aku menambahkannya lagi 1000 dirham karena rumahku itu dekat dengan rumah seorang ulama besar yaitu Abdullah Ibnu Mubarak.”

Begitulah mereka memperhitungkan ulama. Keuntungan besar tak terlihat dari seberapa besar materi yang didapat dari calon pembeli rumahnya, tapi dari seberapa banyak ilmu yang bisa didapat calon pembeli rumah karena rumahnya yang dekat dengan seorang ulama.

Fenomena ini sudah menjadi sebuah kisah yang terabaikan di penghujung zaman ini. Sebaliknya, justru karena dekat dengan ulama maka seseorang akan semakin terancam.

Hal ini benar-benar sudah melampaui batas di luar kewarasan. Banyak ulama ditangkap, dituding anti NKRI, anti Pancasila, disesat-sesatkan bahkan sampai diadu-dombakan hingga menimbulkan perpecahan. Ada kewajiban bagi pemegang kekuasaan untuk tetap menjaga stabilitas kedamaian warganya agar tak terjadi hal-hal yang lebih parah dan semakin menimbulkan kisruh yang makin keruh.

Tentunya, tanpa terlepas dari tanggungjawab kita sebagai muslim untuk terus menjaga ulama, harusnya penguasa lebih berkewajiban untuk menyelesaikan tiap problema yang ada. Mengapa harus ada dari kalangan ulama yang mendapat tindak kejahatan? Apakah peran teroris sudah diambil-alih ulama? Apakah definisi ulama di kamus besar bahasa Indonesia adalah pemecah-belah bangsa? Apakah karena ulama pembawa petaka?

Wal ‘iyadzhu billah. Siapapun yang melakukan tindak kejahatan terhadap ulama, maka dia berada dalam jalan kezhaliman. Dan selamanya tak akan ada ketenangan bagi kezhaliman, karena cepat atau lambat ajal buruk akan tetap menjumpainya.

Ya Allah… jagalah ulama kami. Satukan hati kami dalam kalimatul-Haq. Rapatkan barisan kami. Menangkan kami terhadap orang-orang kafir dan zhalim.

‘Hadiah’ untuk Anak-anak Zaman Now!

Semakin lama dunia ini terasa seperti semakin tak menentu bentuknya. Di pergantian waktu antara siang dan malam selalu saja ada berita unik yang cukup membuat kita sebagai generasi masa kini geleng-geleng kepala.

“Anak Zaman Now” adalah ungkapan paling sering kita dengar akhir-akhir ini terutama di media sosial. Kalau saya pribadi menilai, ungkapan semacam ini seperti menjadi sebuah guyonan yang cukup mewakili untuk memasukkan unsur ‘sindiran’ bagi bangsa kita khususnya. Mungkin tak banyak orang menyadari, tapi setidaknya harusnya ini menjadi sebuah sentilan yang tak bisa diremehkan. Ini tandanya kita sedang kritis!

Hari ini, sederet raport merah kehidupan moral bangsa mulai banyak tergerus oleh paham-paham yang sangat bertentangan dengan nilai-nilai agama dan juga Pancasila sebagai dasar negara. Adat dan budaya daerah yang saling menjunjung keluhuran budi pekerti sudah mulai ditinggal. Ironisnya, paham yang menjadi virus mematikan ini tak hanya menjangkit orang-orang dewasa. Justru anak-cucu penerus bangsa kitalah yang menjadi target utama.

Kemana larinya anggapan dunia tentang Indonesia yang sempat disebut-sebut sebagai bangsa yang paling lembut, sopan dan murah senyum itu?

Beberapa waktu silam, sekitar tahun 2009 beberapa media massa Swedia pernah melakukan sebuah riset dan menobatkan Indonesia di urutan teratas sebagai bangsa yang memiliki masyarakat paling ramah dan murah senyum.

Tak lupa juga, pada tahun 2012 salah satu media online lokal juga melansir sebuah berita yang cukup unik. Kali ini adalah pernyataan dari salah seorang mahasiswi berkebangsaan Rusia yang sempat belajar Bahasa Indonesia selama beberapa bulan melalui program darmasiswa yang diselenggarakan oleh Kemendikbud di Indonesia.

Dalam salah satu hasil wawancara dengan mahasiswi itu dia mengungkapkan, “Saya senang tinggal di Indonesia. Orang sini selalu tersenyum. Mereka ramah dan suka menolong.” Kira-kira begitu.

Atau kalau kita sempat menyaksikan beberapa potongan video pendek karya pemuda-pemuda kreatif yang sudah cukup banyak tersebar, maka akan ditampilkan bagaimana beberapa pemuda yang bersepeda dengan takzim turun dan menuntun sepedanya ketika melintasi suatu jalan yang di depannya terlihat seorang nenek-nenek. Sambil bersapa, “Nyuwun sewu, Mbah…” Samg nenek pun berbalas, “Monggo…” Latar kejadian ini ada di Jogja.

Tapi, apalah daya. Berjumpa saja tak saling tatap. Berkumpul saja tak saling cakap. Tersenyum saja, ah sudahlah. Gimana mau hormat, nenek zaman sekarang aja dituntut ke jaksa!

Sebenarnya masih banyak lagi contoh-contoh lain yang mencirikan khas orang Indonesia yang sopan santun. Mulai dari ucapan, tata krama, busana, dan lain sebagainya.

Namun memasuki dunia yang sudah berumur 2018 ini, kita seperti dikembalikan ke zaman purbakala. Ketika semua tak kenal apa-apa, termasuk pakaian.

Saya, atau mungkin Anda juga sempat menyesalkan soal pendidikan anak-anak zaman sekarang yang banyak disuguhi ‘makanan’ instan yang enak namun tak bermutu. Apalagi, berkembangnya teknologi dalam juga banyak mengandung konten-konten negatifnya walaupun ada juga yang positif.

Televisi, tak lagi menyiarkan acara pendidikan. Bahkan, rasanya sampai berpikir bahwa film kartun itu lebih menyelamatkan daripada film sinetron berlabel ‘Semua Umur’ rasa ‘Dewasa’.

Ada cemburu yang amat dalam ketika hari ini saya membaca di rubrik internasional yang dipublis oleh media republika.online.com tentang keputusan tegas Dewan Pengawas Penyiaran terhadap konten iklan dalam televisi dengan mendenda salah satu stasiun TV yang menampilkan rekaman adegan menari dengan pakaian minim karena mengundang adanya “pelecehan seksual”. Hingga saya berpikir, semoga kemudian hari KPI juga akan mengambil langkah serupa dengan sigap jika menemukan adanya tayangan-tayangan yang merusak tersebut.

Maka, penulis juga ikut berkomentar mengambil andil untuk setidaknya memberikan saran dan mengajak kepada para pembaca sekalian agar kembali semangat menjaga generasi bangsa dengan melestarikan nilai-nilai luhur yang dimiliki bangsa ini. Toh, kita ini adalah anak-cucu para pejuang yang memiliki sumbangsih besar atas merah putih yang berkibar gagah.

Kebanyakan dari mereka adalah para tokoh ulama, para cendekiawan dan kaum terpelajar baik sebagai santri maupun pelajar biasa. Tentu keberhasilan mereka memerdekakan Indonesia juga dengan keluhuran budi pekerti mereka. Maka mari baca sejarah. Karena ia bukan sekadar untuk dikenang, tapi juga untuk dihidupkan!

Kedua, mari tingkatkan kepedulian kita baik itu kepada sesama, yang lebih tua maupun muda. Jangan biarkan musuh-musuh yang memberikan hadiah pada generasi muda karena kita tahu betul apa ‘isinya’. Tapi bingkislah sendiri hadiah untuk mereka. Tak perlu mewah walau sekuntum doa.

Terakhir, kami mau kutip sabda Mabi Muhammad SAW,

“إن من خياركم أحسنكم أخلاقا”

Sesungguhnya yang terbaik diantara kalian adalah yang terbaik akhlaqnya.” [HR Bukhori]

*Penulis adalah santri yang masih faqir ilmu. Santri yang perlu banyak diluruskan. Kadang, berbicara tak semudah perbuatan. Doakan, semoga Istiqomah!

Razu, Klaten, 05 Januari 2018

Start Up: A Guide to Get The Word and Beyond

Tepat sepekan yang lalu di penghujung tahun tanggal 29 Desember 2017 saya sempat menghadiri sebuah ‘Seminar Leadership’ yang berlangsung di Gedung Balairung, Universitas Indonesia. Mengusung tema yang cukup menarik yaitu, “Leadership Rasulullah dan Para Sahabatnya” dengan judul, “Start Up: A Guide to Get the World and Beyond”.

Seminar yang diisi oleh para narasumber super ‘kece’ ini sangat menarik untuk dibahas. Diantaranya ada Kak Iqbal Hariadi Putra (Head of Crownfunding at Kitabisa.com), Kak Andreas Sanjaya (CEO i Grow), dan yang ketiga adalah Kak Miftah Sabri (CEO Selasar.com)

Alhamdulillah, dari para pembicara di atas dapat saya simpulkan beberapa poin penting yang bisa dipetik sebagai pembelajaran kita, terutama para kaum muda. Demikian penjabaran sederhananya oleh pembicara pertama yang dipaparkan dengan lugas oleh Kak Iqbal sebagai berikut:

Pertama, kita akan bahas tentang “Pemuda”. Pemuda adalah sekumpulan orang yang berada di masa-masa ketika seseorang mampu mengekspresikan diri lebih baik untuk menghadirkan kejayaan. Pemuda juga menjadi pelopor paling kuat dan berpotensi untuk menciptakan suatu kemajuan baik itu dalam bermasyarakat, berbangsa, bernegara, untuk dunia dan agama.

Kita mulai dengan mengambil contoh dari potret Rasulullah SAW. Sebagaimana layaknya diketahui, Rasulullah menerima wahyu sekaligus diutus menjadi seorang Rasul Allah ketika berumur 40 tahun. Namun kita mesti melihat tapak sejarah, bagaimana sih kira-kira masa muda beliau hingga menjadi manusia pilihan?

Muhammad kecil dikenal sebagai seorang ‘Al Amin’ atau orang yang dipercaya. Berbagai kalangan dari orang kafir Quraisy saat itu semua menilai Muhammad kecil sebagai satu-satunya orang yang paling bisa dipercaya. Selain karena beliau punya sifat amanah, juga kejujurannya banyak menarik simpati orang-orang pada saat itu. Maka kemudian, kita garisbawahi bahwa sikap jujur dan amanah ini sebenarnya menjadi modal utama seseorang untuk bisa menjadi seorang pemimpin besar! Ya, jujur dan amanah.

Begitupun halnya dengan penilaian jitu seorang saudagar paling kaya pada masa itu, Khadijah binti Khuwailid. Dari sekian banyak pegawainya, Muhammad telah mencuri perhatiannya dengan keluhuran budi pekertinya. Maka, dipilihlah dia sebagai seorang suami yang turut mendampingi hidupnya.

Sebenarnya masih banyak contoh-contoh lain yang digambarkan dari kehidupan sang teladan ummat yang mulia ini. Maka tidak berlebihan jika KTA mengatakan bahwa berbagai buku dan teori kepemimpinan dan kesuksesan hampir semuanya mengambil dari tatanan kehidupan Nabi Muhammad SAW.

Kedua, adapun setelah mengupas sedikit histori yang ada kemudian kita mulai melangkah berbicara soal ‘Start Up’. Mungkin yang dimaksud ‘Start Up’ di sini adalah menciptakan gagasan dan peran sebagai pelopor kebaikan. Bagaimana cara kita melejitkan sebuah gagasan dalam rangka mengajak manusia kepada kebaikan?

Kak Andreas Sanjaya dan Kak Miftah Sabri pun ikut mengomentari serta menambahkan beberapa tips untuk membangun peradaban baru yang maju di antaranya adalah:

  • Tingkatkan kemampuan diri. Cari celah potensi yang dimiliki dengan kemudian mengambil langkah untuk terus mengembangkannya. Salah satu caranya yaitu adalah dengan tiga faktor; Menulis, Berbicara, dan Kerja! Jadikan kemampuan menulis selalu diorientasikan untuk hal-hal yang bermanfaat bagi orang banyak. Begitupun dengan kemahiran kita dalam berkomunikasi. Lewat obrolan, diskusi, sharing, atau ceramah sekalipun juga harus punya seni agar orang-orang bisa tertarik. Paling tidak bisa dan mau menerima apa yang kita sampaikan. Dan soal kerja, totalitas itu penting, lho!
  • Ketiga hal tersebut dapat diasah sesuai dengan minat dan juga didasari oleh kemauan kuat untuk maju.
  • Dan di antara beberapa faktor paling jitu agar terbangunnya kemajuan mewujudkan gagasan menuju kebaikan adalah keteladanan! Karena dari keteladanan inilah orang banyak akan menyaksikan, mengamati, dan kemudian menilai sendiri. Pada akhirnya, akan timbul daya magnetik untuk ikut tergerak mengambil langkah yang sama dalam merangkai kebaikan-kebaikan tersebut. Dan di sanalah terletak salah satu ciri berhasilnya suatu gagasan.
  • Selain itu, biasanya di tengah perjuangan pastinya ada banyak tembok penghalau. Apa kira-kira yang harus dilakukan saat kita dalam kondisi tersebut? Gimana sih supaya gagasan yang kita perjuangkan tidak stagnan? Beberapa kuncinya yaitu dengan memperkaya wawasan, memperbanyak diskusi ilmiah (mencari sebab-sebab timbulnya masalah dan bagaimana solusinya), peka terhadap masalah agar segera dicari jalan keluar, dan tak lupa untuk terus menjaga eksistensi kita sebagai orang yang jujur dan amanah.

Kemudian, di lain kesempatan ada pula audiensi yang bertanya, “Kak, bagaimana sih cara kita menghadapi gangguan berupa celaan atau cercaan? Padahal saat itu kita kan sedang memperjuangkan gagasan kebaikan kita!”

Bagi saya ini cukup menarik. Karena memang sudah niscaya setiap jalan tempuh perjuangan pasti ada yang namanya cercaan.

Nah, beberapa tips dari ketiga narasumber ini mungkin bisa kita amalkan bersama. Di antaranya yaitu:

  1. Having Support System. Jalin lah relasi persaudaraan sebanyak mungkin. Adanya orang-orang di sekeliling kita sangat banyak membantu jalannya perjuangan berat ini. Siapa mereka? Misalnya, seorang pasangan hidup, keluarga, teman kerabat, guru-guru, dan yang lainnya. Jangan pernah putus hubungan silaturahim untuk saling menjaga dan menguatkan.
  2. Sabar. Tentu ini adalah salah satu senjata pamungkas. Besarnya kesabaran berbuah sebuah tekad yang lebih kuat. Supaya tidak terlalu monoton juga, anggap saja setiap cercaan sebagai motivasi diri untuk tidak menjadi seperti apa yang mereka cerca. Tantang diri sendiri untuk bisa membuktikan pada mereka bahwa kita bisa melakukannya dan akan berhasil! Yakin!
  3. Ingat selalu bahwa kaidah hidup pasti akan datang. Setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Ini sudah rumus pasti! Jadi jangan takut susah!
  4. Tagih terus kritik dan saran dari orang lain! Buka sekadar menerima kritik saja, tapi di satu sisi kita juga mesti menuntut adanya kritik dan saran. Karena ketika nilai dari perjuangan tanpa kritik itu seperti dongeng! Maka berbahagialah dengan datangnya kritik walau rasanya pedas. Hehe

Ya, begitulah kiranya resume dengan ditambah sedikit opini dari saya. Kurang lebihnya mohon maaf. Moga penulis berharap agar tulisan ini bisa memberi banyak manfaat untuk banyak orang.

Tak ada niat untuk menceramahi, tapi mengajak. Karena yang menulis hakikatnya lebih bertanggungjawab atas apa yang ditulis. Semoga Allah melimpahi kita semua ke Istiqomah dalam berbuat kebaikan. Aamiin.

Rahasia Munajat Nabi Ayyub AS

Pernahkah mengalami derita penyakit sebagaimana yang menimpa Nabi Ayyub as? Atau pernahkah mengalami sebuah derita yang lebih parah dari apa yang menimpa Nabi Ayyub as?

Manusia biasa tak akan mampu membayangkan betapa menderitanya seseorang jika ia ditimpa penyakit sebagaimana yang diderita oleh Nabi Ayyub as. Seorang manusia pilihan sajalah yang mampu bertahan dengan kesabaran melawan segala bentuk ujian hidup.

Penyakitnya sudah kronis. Sekujur tubuhnya penuh dengan borok yang berlumur darah dan nanah. Tak ada seorangpun yang sanggup melihat penderitaannya. Bahkan orang terdekat beliau pun ikut pergi meninggalkannya.

Namun, keteguhan iman dan kebesaran jiwanya masih mampu membendung segala rasa putus asa. Kesabaran yang agung beliau kerahkan untuk bisa terus menyerahkan segala urusan hidupnya semata karena Allah sebagai Rabb semesta.

Hingga ketika lidah dan hatinya sudah koyak di penuhi ulat-ulat, maka Nabi Ayyub as merasa teramat khawatir. Nabi Ayyub as tak ingin lidahnya berhenti berdzikir menyebut asma-Nya, dan tak mau hatinya telah terganggu dari selalu bertaut pada-Nya.

Kemudian bersimpuhlah Nabi Ayyub as di hadapan Allah SWT. Ia bermunajat dengan setulus-tulus pengharapan, seanggun-anggun permohonan, sebenar-benar pengakuan atas kehinaan diri di sisi-Nya. Beliau pun berkata lirih, sebagaimana yang ditorehkan dalam sejarah dan menjadi doa paling dahsyat yang termaktub dalam Al Quran,

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّه أنِّي مَسَّنِي الضُّرُّ وَأَنت أرْحَم الرَّاحِمينَ.

“Dan ingatlah kisah Ayyub, ketika ia menyeru Rabbnya, ‘(Ya, Rabbku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Rabb yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.)” [Al Anbiya:21:83]

Maka dengan izin yang Maha Kuasa, dengan kesucian dan ketulusan hati Nabi Ayyub as Allah menurunkan rahmat kepadanya dan menyembuhkan segala apa yang dia derita.

Muncul kemudian beberapa hikmah dan ibrah yang menjadi atasan penting bagi kita sebagai ummat manusia. Adalah yang pertama, bahwa sesungguhnya apa yang diderita oleh Nabi Ayyub as hanyalah sekadar penyakit lahiriah. Jauh sekali perbedaannya dengan kita ummat manusia pada zaman akhir ini yang berpenyakit bathiniah. Bayangkanlah jika seandainya penyakit yang diderita Nabi Ayyub as berimbas kepada kita yang berpenyakit batin. Tentu luka dan borok itu akan jauh lebih banyak, lebih perih, dan lebih menjijikkan dibanding apa yang di derita oleh Nabi Ayyub as.

Ketahuilah bahwa apa yang beliau derita hanyalah penyakit yang mengancam kehidupan di dunia yang fana ini. Sedangkan penyakit kita sebagai ummat manusia akhir zaman ini adalah penyakit yang akan mengancam kehidupan kita di akhirat. Maka seharusnya yang lebih butuh dengan doa itu justru adalah kita sendiri.

Kedua, apa yang menimpa Nabi Ayyub as sungguh menjadi jawaban atas segala permasalahan yang menimpa ummat manusia saat ini. Hakikat musibah yang dicerna oleh kita harusnya dijadikan sebagai alat penjernih hati. Sebagai alat pemompa semangat dalam diri untuk menjadi seorang hamba yang selalu giat beribadah dan beramal shalih.

Itu karena dunia ini juga hanya diciptakan sebagai ujian dan cobaan. Dunia ini adalah panggung tempat manusia untuk berlomba-lomba mencari kebaikan bukan sekadar tempat senang-senang dan leha-leha. (Na’udzubillah min dzalik)

Karena sebagaimana pemaparan ulama tersohor, Badiuzzaman Said Nursi dalam kitabnya, Al Lama’aat, bahwa pada dasarnya ibadah itu terbagi menjadi dua bagian: aktif dan pasif. Ibadah aktif adalah ibadah yang kita kenal dengan segala macamnya. Sedangkan ibadah pasif itu sendiri merupakan sejenis penyakit atau cobaan yang membuat diri terasa menderita. Dan darinya kita mampu belajar untuk selalu merasa lemah di hadapan Allah dan terus belajar untuk bergantung memohon pertolongan pada Allah.

Maka seharusnya ujian dan cobaan hidup mestinya menjadi sebuah nikmat yang tak terlihat mata. Nikmat yang terasa oleh alam bawah sadar yang mesti kita dapatkan untuk mencapai kesempurnaan iman dalam perjalanan mendekat kepada-Nya.

Ketiga, adalah sebuah kekeliruan jika kita mengkhawatirkan musibah baik yang sudah menimpa maupun yang akan datang menimpa. Begitupun keluh-kesah dan gelisah yang merongrong dalam hati. Karena justru dengannya manusia bukan untuk diajarkan membenci, melainkan untuk terus memupuk cinta kepada Allah SWT.

Karena sungguh ayat-ayat Allah banyak memberikan janji-janji manis yang tak pernah dusta bagi siapapun yang selalu berjuang dan terus menautkan hati dan hidupnya untuk Allah. Jika membaca gelisah sebagai fitrah memang itu dibenarkan. Tapi jika ia menafsirkannya lebih dari pada itu, maka sesungguhnya yang akan didapat adalah kebinasaan yang justru akan membuat ‘luka’ dalam dirinya semakin perih.

Keempat, Allah ingin menunjukkan kepada manusia bahwa jika ada musibah dan bencana yang hakiki itu adalah sesuatu yang menyerang agama. Jika itu semua terjadi, maka yang harus dilakukan seorang hamba adalah terus berlindung kepada Allah SWT.

Selain itu, musibah hakikatnya adalah pelebur dosa. Betapa hal ini menunjukkan Allah begitu adil dan sayang kepada hamba-Nya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Tidaklah seorang muslim dirundung musibah dan penyakit melainkan Allah menghapus dosa-dosanya sebagaimana dedaunan pohon yang gugur.”

Maka demikianlah yang dilakukan oleh Nabi Ayyub as. Beliau berdoa untuk memohon kesembuhan agar lisannya tak terhalang dari mengingat-Nya, dan agar hatinya tak berhenti bertafakur merenungkan segala nikmat dan kuasa-Nya. Maka, harusnya diniatkan dalam diri ketika berdoa memint kesembuhan agar Allah menyembuhkan penyakit kita yang juga diakibatkan karena dosa-dosa yang telah diperbuat.

Selain itu, meminta ditumbuhkan dalam hari keinginan untuk selalu berharap kepada keridhaan Allah SWT. Meminta agar hati selalu ditautkan pada Allah. Dan tentunya meminta disadarkan agar kehidupan dunia yang dijalani semata untuk persiapan menuju kehidupan abadi. Karena di dalamnya ada dua pilihan yang masih tak dapat kita pastikan: surga atau neraka.